Ikon Kota Kembali Hidup, Tugu Jam Tiga Muka Pontianak Siap Jadi Titik Nol

Tugu Jam Tiga Muka

Chakpedia – Kota Pontianak kembali menarik perhatian publik dengan kabar gembira dari Wali Kota Edi Rusdi Kamtono yang berencana menjadikan Tugu Jam Tiga Muka sebagai titik nol dan cagar budaya kota. Langkah ini menjadi bagian dari program revitalisasi ikon-ikon bersejarah agar kembali hidup dan menjadi daya tarik wisata lokal maupun nasional.

Ikon Sejarah yang Hampir Terlupakan

Bagi warga Pontianak lama, Tugu Jam Tiga Muka bukanlah sekadar bangunan biasa. Tugu ini berdiri di persimpangan strategis Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Rahadi Usman, dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, sekitar tahun 1936–1937. Dikenal juga dengan nama Jam Juliana Bernhard, tugu ini dulunya menjadi simbol kemajuan kota Pontianak pada masa Hindia Belanda.

Bacaan Lainnya

Namun seiring berjalannya waktu, tugu tersebut nyaris terlupakan. Pepohonan yang tumbuh tinggi di sekelilingnya membuat keberadaan tugu tak lagi terlihat jelas. Banyak warga bahkan tidak sadar bahwa di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kota, berdiri salah satu peninggalan sejarah yang penting bagi identitas Pontianak.

Kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak ingin mengembalikan kejayaan simbolik itu. Melalui program revitalisasi ruang kota dan pelestarian cagar budaya, Tugu Jam Tiga Muka akan kembali bersinar bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tapi juga destinasi wisata edukatif yang membanggakan.

Revitalisasi dan Rencana Penataan Tugu Jam Tiga Muka

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan penataan lansekap, pembersihan area sekitar tugu, serta peremajaan taman di sekitarnya.

Kami ingin Tugu Jam Tiga Muka tampil lebih indah dan punya nilai sejarah yang hidup kembali. Ini bukan sekadar monumen, tapi simbol kebanggaan warga Pontianak,” ujarnya.

Langkah awal sudah dilakukan dengan pemangkasan pepohonan tinggi yang menutupi tugu, agar monumen itu kembali terlihat jelas dari berbagai arah jalan utama. Selanjutnya, Pemkot berencana menambahkan elemen pencahayaan, taman bunga, serta jalur pedestrian agar warga bisa menikmati area tersebut dengan nyaman.

Rencana ini juga didukung oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pontianak, yang menyebut bahwa proyek revitalisasi ini akan menggunakan pendekatan heritage modernmenjaga bentuk asli bangunan, namun menghadirkan sentuhan modern dalam pencahayaan dan taman kota.

Akan Ditetapkan Sebagai Titik Nol Kota Pontianak

Salah satu langkah bersejarah dalam proyek ini adalah penetapan Tugu Jam Tiga Muka sebagai titik nol kota. Artinya, tugu ini akan menjadi pusat koordinat yang menjadi acuan pengukuran jarak dan orientasi wilayah di Pontianak.

Selama ini, Pontianak belum memiliki satu titik nol yang diresmikan secara formal seperti kota-kota besar lain di Indonesia. Dengan ditetapkannya tugu ini sebagai titik nol, maka Pontianak akan memiliki identitas geografis yang kuat dan bisa menjadi daya tarik wisata baru bagi para pelancong.

Selain itu, pemerintah juga akan menambahkan plakat informasi dan petunjuk sejarah di sekitar area tugu agar pengunjung dapat memahami makna dan sejarah bangunan tersebut. Langkah ini tidak hanya memperkuat sisi edukasi, tetapi juga mempercantik tampilan kawasan pusat kota.

Menuju Status Cagar Budaya

Tak berhenti di situ, Edi Kamtono juga menyampaikan bahwa Pemkot akan mengusulkan Tugu Jam Tiga Muka sebagai cagar budaya resmi. Dengan status ini, tugu akan mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Status ini penting agar bangunan bersejarah tersebut tidak mudah dipugar secara sembarangan atau bahkan diabaikan. Setiap perbaikan nantinya harus melalui kajian arkeologis dan disetujui oleh tim ahli pelestarian.

Kita ingin masyarakat tahu, bahwa Pontianak punya sejarah panjang dan nilai warisan yang layak dijaga. Dengan status cagar budaya, Tugu Jam Tiga Muka akan menjadi monumen kebanggaan yang terus hidup,” tambah Wali Kota.

Dampak Positif Bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Revitalisasi Tugu Jam Tiga Muka diyakini akan membawa dampak positif bagi sektor pariwisata Pontianak. Dengan tampilan baru dan penataan lingkungan yang lebih rapi, tugu ini dapat menjadi spot wisata sejarah dan edukasi yang menarik untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Kawasan sekitar tugu juga berpotensi berkembang menjadi ruang publik aktif dengan aktivitas seperti pasar seni, pertunjukan budaya, dan event lokal. Para pelaku UMKM pun dapat ikut menikmati efek ekonomi dari peningkatan jumlah pengunjung.

Dari sisi pariwisata, keberadaan tugu ini akan melengkapi destinasi lain di Pontianak seperti Tugu Khatulistiwa, dan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Kombinasi antara sejarah, budaya, dan pengalaman visual modern menjadikan Pontianak semakin menarik sebagai kota wisata heritage di Kalimantan Barat.

Simbol Kebanggaan dan Warisan Generasi Mendatang

Rencana menjadikan Tugu Jam Tiga Muka sebagai titik nol dan cagar budaya tidak hanya tentang fisik bangunan, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif warga akan pentingnya menjaga warisan kota.

Ketika masyarakat merasa memiliki, maka nilai sejarah itu akan hidup selamanya. Pontianak pun tidak hanya dikenal sebagai kota di garis khatulistiwa, tapi juga kota yang mampu menjaga dan merawat sejarahnya dengan bangga.

Pos terkait