Chakpedia – Jalanan ibu kota hari ini berubah menjadi lautan jaket hijau dan atribut perlawanan. Ribuan pengemudi ojek online (ojol) turun ke jalan, bukan untuk mencari nafkah seperti biasa, tapi untuk menyampaikan satu hal penting: mereka marah, dan mereka sudah muak!
Demo ojol hari ini bukan sekadar aksi biasa. Ini adalah bentuk akumulasi kekecewaan yang sudah bertahun-tahun tertahan. Sistem yang katanya digital dan modern, justru jadi alat penindas yang menggerus hak-hak para mitra pengemudi.
Kenapa Demo Ojol Hari Ini Terjadi?
Jawabannya sederhana: karena ketidakadilan itu nyata dan makin tak terbendung.
Bayangkan, dari setiap perjalanan, pengemudi hanya mendapatkan sebagian kecil dari tarif yang dibayar penumpang. Potongan dari aplikator bisa mencapai 30% hingga 50%, padahal mereka tidak keluar keringat di jalanan. Belum lagi skema-skema baru seperti tarif hemat, slot prioritas, hingga aceng, yang semuanya didesain untuk memeras waktu dan tenaga para driver.
“Kami bukan robot! Kami manusia yang juga butuh makan, butuh hidup, dan layak diperlakukan adil!” – begitu salah satu orasi pengemudi yang menggema di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat siang ini.
Tuntutan yang Jelas dan Tegas
Dalam demo besar-besaran bertajuk Aksi Akbar 205, para pengemudi ojol menyampaikan lima tuntutan utama:
- Berikan sanksi kepada aplikator yang melanggar aturan, terutama PM 12/2019 dan KP 1001/2022. Jangan biarkan regulasi hanya jadi formalitas tanpa penerapan tegas.
- Lakukan rapat terbuka bersama DPR, Kemenhub, dan perwakilan ojol. Jangan lagi kebijakan dibuat sepihak tanpa melibatkan kami yang di lapangan.
- Batasi potongan maksimal sebesar 10%! Bukan 30%, bukan 40%, apalagi 50%. Kami tidak bisa hidup dari sisa remah sistem yang rakus.
- Hapus sistem tarif dan algoritma yang menyiksa. Skema prioritas, hemat, slot, semuanya adalah bentuk penindasan terselubung.
- Atur tarif layanan pesan-antar makanan dan barang secara adil. Libatkan pengemudi, regulator, dan konsumen. Jangan hanya menguntungkan aplikator.
Aksi Serentak di Berbagai Titik
Aksi ini tidak hanya terjadi di satu lokasi. Titik-titik strategis seperti Patung Kuda, Kementerian Perhubungan, Gedung DPR/MPR RI, hingga kantor pusat aplikator jadi sasaran unjuk rasa. Massa bergerak serentak mulai pukul 12.30 WIB.
Ruas jalan di kawasan Monas, Medan Merdeka, dan sekitarnya lumpuh total. Tapi bagi para pengemudi, itu kecil. Yang lebih besar adalah kerugian yang mereka alami setiap hari karena sistem yang tidak adil.
Ini Bukan Huru-hara, Ini Perlawanan!
Masyarakat harus tahu: demo ojol hari ini bukan tindakan anarki. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketimpangan yang nyata. Mereka yang berdemo adalah kepala keluarga. Mereka adalah tulang punggung ekonomi. Dan hari ini mereka memilih turun ke jalan karena sudah tidak ada lagi saluran aspirasi yang didengar.
Mereka bukan sedang mencari sensasi. Mereka ingin hidup layak. Mereka ingin diakui sebagai mitra, bukan alat. Mereka tidak minta dikasihani. Mereka hanya ingin hak mereka dipenuhi.







