Chakpedia – Jogja itu istimewa, bukan cuma karena keratonnya atau kulinernya yang ngangenin, tapi juga karena tradisi-tradisinya yang masih hidup sampai sekarang. Salah satu tradisi yang paling ditunggu-tunggu setiap bulan Suro adalah Mubeng Beteng. Eits, jangan salah! Meski terdengar sederhana cuma jalan kaki mengelilingi benteng keraton tapi tradisi ini penuh filosofi, lho!
Apa Itu Tradisi Mubeng Beteng?
Secara harfiah, “Mubeng Beteng” berarti mengelilingi benteng. Tradisi ini dilakukan setiap malam 1 Suro (atau 1 Muharram dalam kalender Hijriyah), yaitu saat malam tahun baru Islam. Dalam suasana hening dan syahdu, ribuan orang berjalan kaki mengelilingi kompleks Beteng Keraton Yogyakarta sejauh kurang lebih 5 kilometer. Rute yang dilewati biasanya mencakup empat titik penting: Tugu Pal Putih – Kridosono – Plengkung Wijilan – Alun-Alun Utara – dan kembali ke titik awal.
Uniknya, seluruh prosesi ini dilakukan tanpa bicara dan tanpa alas kaki! Iya, kamu nggak salah baca jalan kaki tanpa sepatu atau sandal, dalam diam, dan biasanya tengah malam. Tapi justru di situlah letak maknanya.
Filosofi Mendalam di Balik Keheningan
Kenapa harus diam dan tanpa alas kaki?
Karena Mubeng Beteng bukan sekadar jalan kaki rame-rame. Tradisi ini adalah wujud refleksi diri, perenungan, dan pengendalian hawa nafsu. Dengan berjalan dalam sunyi, kita diajak untuk merenung: sudah seberapa jauh langkah hidup kita selama ini? Sudah luruskah jalan yang kita tempuh?
Tanpa alas kaki artinya kita belajar merendahkan diri, menyatu dengan tanah, menyadari bahwa kita semua sama di hadapan Tuhan. Sedangkan diam adalah simbol dari kekhusyukan, menjaga pikiran tetap jernih.
Siapa Saja yang Bisa Ikut?
Siapa aja boleh ikut, kok! Nggak harus orang Jogja atau keturunan keraton. Warga lokal, wisatawan, bahkan orang asing sering terlihat ikut Mubeng Beteng. Nggak ada dress code khusus, tapi biasanya peserta memakai pakaian serba hitam sebagai simbol kesederhanaan dan penghormatan terhadap tradisi.
Kalau kamu ingin ikut, cukup datang ke area keraton sebelum tengah malam pada malam 1 Suro. Tapi ingat ya, jangan ngobrol, jangan main HP, dan jangan pakai alas kaki.
Kapan Mubeng Beteng Dilaksanakan Tahun Ini?
Tahun 2025 ini, malam 1 Suro jatuh pada Malam Jumat Kliwon, 26 Juni 2025. Yup, malam Jumat yang sakral makin menambah kekhidmatan suasana. Biasanya ribuan orang sudah mulai berkumpul di sekitar Pagelaran Keraton sejak pukul 22.00 WIB dan prosesi dimulai sekitar pukul 00.00 WIB.
Tips Buat Kamu yang Ingin Ikut Mubeng Beteng
Biar pengalaman kamu makin berkesan, ini beberapa tips ringan:
- Datang lebih awal, supaya kebagian barisan depan dan nggak terjebak di kerumunan.
- Bawa air minum (diminum setelah prosesi ya, jangan pas jalan).
- Jaga niat dan fokus, ingat ini bukan event hiburan, tapi bentuk spiritualitas.
- Gunakan pakaian yang nyaman, gelap lebih baik.
- Kalau takut kotor, bawa plastik atau tas buat alas kaki setelah selesai.
Warisan Budaya yang Patut Dilestarikan
Mubeng Beteng adalah bukti nyata bahwa masyarakat Yogyakarta masih memegang teguh nilai-nilai luhur nenek moyangnya. Di tengah gempuran modernisasi, tradisi ini tetap hidup, bahkan makin dikenal luas. Banyak generasi muda yang antusias ikut serta baik karena ingin cari pengalaman baru maupun karena ingin menyatu dengan kearifan lokal.
Lebih dari Sekadar Jalan Kaki
Mubeng Beteng adalah momen spesial di mana kita bisa melambat sejenak, menepi dari hiruk-pikuk dunia, dan merenung tentang hidup yang kita jalani. Di tengah malam Jogja yang sunyi, kamu akan merasa jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar sebuah tradisi spiritual yang sudah berjalan ratusan tahun.
Jadi, kalau kamu lagi di Jogja pas malam 1 Suro, jangan lewatkan tradisi Mubeng Beteng! Bukan cuma unik dan sakral, tapi juga penuh kedamaian yang mungkin jarang kamu temui di tempat lain.







